Uni Eropa Perketat Pengiriman Senjata ke Mesir

TEMPO.CO, Brussel - Uni Eropa sepakat memperketat pengiriman perlengkapan keamanan dan persenjataan ke Mesir sebagai bagian dari reaksi Uni Eropa atas kekerasan mematikan yang dilakukan militer di sana. Namun perkumpulam negara-negara Eropa itu tetap memberikan bantuan ekonomi untuk Mesir.

Dalam sebuah pertemuan darurat selama beberapa jam Rabu, 21 Agustus 2013, di Brussel, sejumlah negara anggota Uni Eropa mengutuk pertumpahan darah yang menyebabkan hampir 1.000 orang tewas akibat kekerasan pekan lalu, Rabu, 14 Agustus 2013.

Kepala Kebijaksanaan Luar Neger Uni Eropa, Catherine Asthon, mengatakan, UE akan meninjau kembali bantuannya ke Mesir namun kebutuhan untuk sejumlah kelompok dan masyarakat sipil tetap dilanjutkan. "Sejumlah anggota (UE) sepakat menunda pengiriman senjata ke Mesir lantaran digunakan untuk represi," ujar Asthon.

Inggris, Jerman, Italia, serta Belanda setuju dengan kebijaksanaan pengetatan pengiriman senjata ke Mesir. Menteri Luar Negeri Belanda, Frans Timmermans, menerangkan, "Pengiriman senjata pada pekan ini, minggu depan, dan dalam waktu dekat merupakan langkah tidak tepat."

Namun demikian, UE sedikit mengurangi paket bantuan ekonomi dan sanksi perdagangannya dengan Mesir. Menteri Luar Negeri Italia, Emma Bonino, mengatakan, pengurangan bantuan ekonomi adalah sikap kontra-produktif.

"Kita harus tetap percaya dengan mayoritas rakyat Mesir yang menginginkan stabilitas, demokrasi, dan kemakmuran negara untuk diri mereka sendiri. Itu berarti kita tidak harus melakukan sesuatu yang menyakiti mereka atau memotong dukungan kepada mereka," Menteri Luar Negeri Inggris William Hague menambahkan. "Prinsip-prinsip kebijaksanaan kami adalah mendukung lembaga demokrasi, bukan sebaliknya," ungkap Hague.

UE nampak lebih lebih netral dibandingkan dengan Amerika Serikat dalam hal bantuan militer ke Mesir, yang memainkan peranan kunci dalam penggulingan Presiden Muhamad Mursi pada 3 Juli 2013. Pemeritahan baru Mesir mengizinkan Kepala Kebijaksanaan Luar Negeri UE, Catherine Asthon, menjadi pejabat asing pertama yang diperkenankan bertemu Mursi dalam tahanan.

AL JAZEERA | CHOIRUL

Terpopuler

Soal Tes Keperawanan, Ini Jawaban HM Rasyid 

Rachmawati: SBY Tak Punya Etika Politik 

KPK: Djoko Susilo Cuma Bisa Jadi Ketua RT

Jenderal Moeldoko: Saya Bukan Ahli Surga

Jokowi dan Sjafrie Bahas Strategi Pertahanan Jakarta


http://id.berita.yahoo.com/uni-eropa-perketat-pengiriman-senjata-ke-mesir-050747536.html
◄ Newer Post Older Post ►
 

© Tersedunia Powered by Blogger